15.3 GW dari sumber terbarukan
Sumber Energi berdasarkan Kapasitas
Sektor Energi dan Pembangkitan Listrik di Afrika Selatan
Afrika Selatan, yang memiliki kode negara ZAF, adalah negara yang kaya akan sumber daya alam dan memiliki sektor energi yang beragam. Dengan populasi yang lebih dari 60 juta jiwa, kebutuhan energi di Afrika Selatan terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi. Sektor energi di negara ini didominasi oleh pembangkitan listrik dari sumber-sumber fosil, meskipun terdapat upaya untuk meningkatkan proporsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional.
Pembangkitan listrik di Afrika Selatan sebagian besar bergantung pada batu bara, yang menyuplai sekitar 80% dari total kebutuhan energi. Eskom, perusahaan utilitas negara, merupakan penyedia utama listrik di Afrika Selatan dan mengoperasikan beberapa pembangkit listrik berbasis batu bara terbesar di dunia. Namun, ketergantungan yang tinggi terhadap batu bara juga menimbulkan tantangan lingkungan, termasuk polusi udara dan emisi gas rumah kaca. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Afrika Selatan telah berupaya untuk mengurangi dampak lingkungan terkait dengan pembangkitan listrik dan beralih ke sumber energi yang lebih bersih.
Energi terbarukan mulai mendapatkan perhatian yang lebih besar dalam beberapa tahun terakhir. Afrika Selatan memiliki potensi besar untuk energi solar dan angin, berkat iklim yang menguntungkan dan lokasi geografis yang strategis. Program Energi Terbarukan Independen (REIPPPP) yang diluncurkan pada tahun 2011 bertujuan untuk menarik investasi swasta dalam proyek energi terbarukan, dengan hasil yang cukup signifikan. Pada tahun 2021, lebih dari 10% dari total kapasitas pembangkitan listrik berasal dari sumber terbarukan, termasuk tenaga angin, solar, dan hidro.
Selain itu, Afrika Selatan juga memiliki potensi untuk mengembangkan energi nuklir sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber energi. Pembangkit listrik tenaga nuklir Koeberg, yang beroperasi sejak tahun 1984, merupakan satu-satunya pembangkit listrik nuklir di negara ini. Meskipun ada rencana untuk menambah kapasitas nuklir, proyek-proyek tersebut sering kali terhambat oleh isu-isu pendanaan, regulasi, dan kekhawatiran publik terkait keselamatan.
Masalah yang dihadapi sektor energi Afrika Selatan juga mencakup tantangan dalam hal infrastruktur dan manajemen. Eskom telah menghadapi kesulitan keuangan yang serius, yang berdampak pada kemampuannya untuk mempertahankan dan memperluas jaringan listrik. Pemadaman listrik bergilir menjadi hal yang biasa dalam beberapa tahun terakhir, yang menunjukkan perlunya reformasi dalam sektor ini.
Pada tahun 2020, pemerintah mengumumkan rencana untuk membebaskan sektor energi dari kendala yang ada, termasuk memberikan izin kepada perusahaan swasta untuk membangun dan mengelola proyek pembangkit listrik mereka sendiri tanpa batasan kapasitas tertentu. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan dan handal. Dengan adanya upaya-upaya ini, Afrika Selatan berkomitmen untuk mencapai tujuan pengurangan emisi dan memenuhi kebutuhan energi yang terus berkembang di masa depan.
Pembangkit Listrik
Menampilkan 50 dari 232 pembangkit